BERIMAN
KEPADA YESUS DALAM KARYA, SENGSARA, WAFAT DAN KEBANGKITANNYA
A.
IMAN AKAN KERAJAAN ALLAH DAN KARYA HIDUP YESUS
Yesus selalu
mewartakan Kerajaan Allah dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan. Hal itu,
dilakukanNya agar orang dengan mudah menangkap dan memahaminya sesuai dengan
situasi hidup seseorang. Melalui perumpamaan-perumpamaan itulah gagasan Yesus
tentang Kerajaan Allah dapat diterima dan dipahami oleh orang-orang sederhana.
Kerajaan Allah yaitu Allah yang datang sebagai Raja. Dengan kata lain: Kerajaan
Allah adalah Allah memerintah (pemerintahan Allah) sebagai raja. Manusia yang
membuka hati untuk dirajai oleh Allah, manusia itu akan menemukan damai sejahtera, sukacita dan kebenaran.
Yesus mewartakan Kerajaan Allah juga
melalui mukjizat Nya secara nyata. Kita bisa membacanya pada kutipan Mat 11:4-5
Yesus menjawab mereka: "Pergilah dan
katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta
melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli
mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar
baik
Dalam buku yang
ditulis oleh Paus Emeritus Benediktus berjudul “Yesus dari Nasaret” pada bagian 1 dinyatakan begitu indah apa
yang dimaksudkan tentang Kerajaan Allah
“Kerajaan Allah
itu bukanlah suatu tempat, juga bukanlah kekuasaan geografis seperti
kerajaan-kerajaan duniawi. Itu adalah seseorang; itulah Dia. Dalam penafsiran
ini, istilah ‘Kerajaan Allah' sendiri merupakan Kristologi terselubung. Melalui
caranya, Yesus berbicara tentang Kerajaan Allah, Yesus menuntun manusia untuk
menyadari fakta yang luar biasa bahwa di dalam Dia, Allah sendiri hadir di
antara mereka, bahwa Dia adalah bukti nyata hadirnya hadirat Allah.” (Paus,
Yesus dari Nazaret, Bagian 1)
Yesus melakukan
tindakan cinta kasih yang nyata, yaitu mengangkat keluhuran manusia. Yesus
dekat dengan semua orang, karena itu Ia bergaul dengan semua. Yesus tidak
mengkotak-kotakkan dan membuat kelas-kelas di antara manusia. Ia akrab dengan
semua orang: para pemimpin agama (Yoh 7:42-52), penguasa bahkan penjajah (Mrk
7:1-10) yang beritikad baik. Namun Ia
juga akrab dengan orang miskin, pegawai pajak yang korup (Luk 19:1-10), dengan
tuna susila (Luk 7:36-50) dan para penderita penyakit berbahaya yang dikucilkan.
Pergaulan Yesus dengan orang-orang yang dianggap berdosa dan najis tidak sesuai
dengan adat sopan santun dan peraturan agama yang berlaku pada saat itu. Yesus
berani menjukirbalikkan peraturan-peratuan yang mapan, tetapi yang
mengkotak-kotakan orang dan yang membatasi pergaulan manusia. Sudah sering kita
temukan dalam berbagai kisah dalam Kitab Suci, bahwa Yesus sering dikecam
karena Ia melanggar hari Sabat. Mengapa Yesus berani melanggar hari sabat?
Perbuatan berkaitan dengan pandangan Yesus mengenai Hukum Taurat. Yesus
memaklumkan bahwa Allah itu pembebas. Segala hukum, peraturan, dan perintah
harus diabdikan kepada tujuan yaitu memerdekakan manusia. Maksud terdalam dari
setiap hukum ialah membebaskan (atau menghindarkan) manusia dari segala sesuatu
yang dapat menghalangi manusia berbuat baik. Begitu pula tujuan hukum Taurat.
Sikap Yesus terhadap hukum taurat dapat diringkaskan dengan mengatakan bahwa
Yesus selalu memandang hukum Taurat dalam terang hukum kasih.
Tindakan Yesus, tidak hanya untuk diriNya
sendiri. Melainkan tindakan yang menjadi gerakan bagi setiap orang. Untuk itu,
Yesus dalam mewartakan Kerajaan Allah, Ia memanggil beberapa orang secara
khusus untuk mengikuti-Nya dan menjadi rasul-rasul-Nya. Dan kita mengenal ada
12 rasul Yesus. Mereka itu dipanggil dan diutus oleh Yesus untuk meneruskan apa
yang telah Ia mulai. Untuk itu mereka dituntut memiliki keterlibatan yang luar biasa bagi warta cinta kasih. Oleh
karena itu, mereka diminta untuk meninggalkan segala-galanya, selalu berjalan
dan hidup dekat dengan Yesus, siap diutus, siap menderita dan siap untuk
mewartakan hingga ujung bumi untuk semakin meluasnya Kerajaan Allah
B. IMAN AKAN
SENGSARA DAN WAFAT YESUS
Kisah sengsara dan kematian Yesus
merupakan kisah yang mampu menyentuh dan menginspirasi banyak orang. Bahkan,
keempat kitab Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes masing-masing
dengan caranya sendiri memiliki kisah yang berpusat pada sengsara dan wafat
Yesus. Memang secara keseluruhan keempat kisah itu pada dasarnya sama. Namun
demikian masing-masing penginjil dengan caranya yang khas mau menonjolkan aspek
tertentu dari kisah itu. Maka kita pada bagian selanjutnya ini diajak secara
mendalam menyadari dan memperdalam Sengsara dan
Wafat agar siswa semakin mengimani Kristus.
Dalam Kitab
Yesaya 53:4-6.10,11 sengsara dan wafat Yesus telah dinubuatkan dengan begitu
epik dan mendalam:
Sesungguhnya, dia telah menanggung
penyakit dan penderitaan kita, dia telah memikulnya, tetapi kita menganggap dia
kena kutuk, dihajar dan didera Elohim.Namun, dia ditikam karena pemberontakan
kita, diremukkan karena kejahatan kita. Ganjaran demi keselamatan kita menimpa
atasnya, dan melalui bilurnya dia telah menjadi kesembuhan bagi kita. Seperti
domba, kita semua telah tersesat, kita masing-masing telah berbalik menurut
jalannya sendiri, tetapi YAHWE telah menimpakan kepadanya kejahatan kita semua.
Namun YAHWE berkehendak untuk meremukkannya, membuatnya sakit. Sekiranya dia
menaruh jiwanya sebagai persembahan penghapus salah, dia akan melihat benihnya,
dia akan memperpanjang hari-harinya, dan dalam tangannya kehendak YAHWE akan
berhasil. “Melalui jerih lelah jiwanya dia akan melihat, dia akan dipuaskan.
Dalam pengetahuannya, hamba-Ku yang benar itu akan membenarkan banyak orang,
dan dia akan menanggung kejahatan mereka.
Wafat Yesus menyelamatkan manusia.
Wafat Yesus bukanlah kebetulan, tetapi merupakan bagian dari misteri
penyelamatan Allah. Kitab Suci sudah menubuatkan rencana penyelamatan ilahi
melalui kematian, HambaKu yang Benar sebagai penebusan universal (Bdk Yes
52:13-53:12).
Dalam peristiwa salib, kita dapat
mengenal penyertaan Allah dalam hidup manusia. Allah yang berbelas kasih tidak
pernah meninggalkan manusia. Sekalipun manusia mengalami kesengsaraan dan
penderitaan, Allah tetap beserta kita (Immanuel). Kesengsaraan dan wafat Yesus
menjadi tanda agung kehadiran Kerajaan Allah karena member kesaksian tentang
Allah yang sebenarnya, yakni Allah yang mahakasih. Allah dalam diri Yesus telah
menjadi solider dengan manusia. Ia telah menjadi senasib dengan manusia sampai
kepada kematian, bahkan kematian yang paling hina. Tidak ada wujud solidaritas
yang lebih final dan lebih hebat daripada kematian Yesus. Yesus rela mati
disalib di antara dua penjahat. Ia telah menjadi manusia, sama dewngan kaum
tersisih dan terbuang.
Dokumen
Ensiklik Gereja Deus Caritas Est (Allah adalah kasih) Artikel 12 yang ditulis oleh
Paus emeritus Paus Benediktus XVI tahun 2006
Sampai sekarang kita memang
berbicara terutama tentang Perjanjian Lama, tetapi selalu sudah nampak
peresapan kedua Perjanjian itu sebagai satu Kitab iman kristiani. Kebaruan
sesungguhnya dari Perjanjian Baru bukanlah gagasan baru, melainkan tokoh
Kristus sendiri, yang memberi kepada gagasan darah dan daging, realisme yang
baru. Sudah dalam Perjanjian Lama kebaruan alkitabiah tak terletak dalam
gagasan, melainkan dalam tindakan Allah yang terduga dan dalam arti tertentu
tak pernah terdengar. Tindakan Allah ini mengambil bentuk dramatis dalam hal
bahwa Allah dalam Yesus Kristus sendiri mencari “domba yang hilang”, umat
manusia yang menderita dan hilang. Bila Yesus dalam perumpamaan berbicara
tentang gembala, yang mencari domba yang hilang, perempuan yang mencari dirham,
bapa yang menyambut anak yang hilang dan memeluknya, maka itu sema bukan hanya
kata-kata, melainkan penjelasan tentang diriNya dan tindakan-Nya. Dalam
wafat-Nya di salib terwujudlah sikap Allah terhadap diri-Nya sendiri; Ia
menganugerahkan diri untuk mengangkat dan menyelamatkan manusia – kasih dalam
bentuk paling radikal. Pandangan kepada sisi Yesus yang ditembus yang
diberitakan Yohanes (bdk. 19: 37), mengerti apa yang menjadi pangkal tulisan
ini: “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4: 8). Di situ kebenaran ini dapat dilihat.
Wafat Yesus
menunjukkan tanda kasih Allah. Kisah sengsara dan wafat Yesus dalam terang
kebangkitan bagi jemaat dimengerti sebagai tanda yang sangat jelas yang
menunjukkan kasih Allah. Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia
telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepada-Nya tidak bisana, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:16). Tidak
ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya
untuk sahabat-sahabatnya (Yoh 15:13).
Santo Paulus dalam pengakuan iman
menyatakan, “Kristus telah mati karena dosa-dosa kita (1Kor 15:3). Yesus mati
untuk kepentingan kita. Hal ini ditegaskan oleh surat pertama Santo Petrus,
“Sebab kamu tahu bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang
kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang fana, bukan pula dengan
perak dan emas, melainkan dengan darah yangmahal, yaitu darah kristus yang sama
seperti darah anak domba hang tak bernoda dan tak bercacat “(1 Ptr 1:18-19).
Santo Paulus berkata Dialah yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi
dosa karena kita, supaya kita dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor
5:21). Wafat Yesus telah mempersatukan kita kembali dengan Allah. Rekonsiliasi
antara kita dengan Allah telah terjadi
berkat kematian Yesus disalib.
C.
IMAN AKAN KEBANGKITAN DAN KENAIKAN YESUS KE SURGA
Pada sub pokok bahasan ini, kita
akan diajak belajar memahami bagaimana kebangkitan dan kenaikan Yesus di surga
merupakan puncak dari Kisah sengsara dan wafat Yesus. Kebangkitan Yesus menjadi
sangat berarti bagi iman kita untuk menggenapi sengsara dan wafat Yesus.
Artinya sengsara dan wafat Yesus hanya memiliki arti bagi keselamatan kita,
karena dilihat ada terang kebangkitan. Kebangkitan Kristus merupakan inti iman
kita. Santo Paulus menegaskan, “andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka
sia-sialah pemberitaaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu “ (1 Kor
15:14).
Mendalami
Ajaran Kitab Suci (Yohanes 20:1-10)
Pada hari pertama minggu itu,
pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu
dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan
Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada
mereka: Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia
diletakkan. Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya
berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada
Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan
melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka
datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia
melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di
kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di
tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang
lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. Sebab selama
itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus
bangkit dari antara orang mati. Lalu
pulanglah kedua murid itu ke rumah
Surat apostolik
dari mendiang Paus Yohanes Paulus II, Dies Domini (Hari Tuhan) art 31
dikatakan, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:20).
Janji Kristus ini tidak pernah berhenti bergema di Gereja sebagai rahasia abadi
dan sumber harapan bagi kita. Sebagai hari kebangkitan, hari Minggu bukan hanya
hari mengingat peristiwa masa lalu: itu adalah perayaan kehadiran hidup atas
Kebangkitan Tuhan di tengah-tengah umat-Nya sendiri. Agar kehadiran ini
diberitakan dan dihayati dengan benar, tidaklah cukup bahwa murid Kristus
berdoa secara individu dan memperingati kematian dan Kebangkitan Kristus dalam
kerahasiaan hati mereka semata. Mereka yang menerima anugerah baptisan tidak
diselamatkan sebagai individu saja, tetapi sebagai anggota Tubuh Mistik,
setelah menjadi bagian dari Umat Allah. Oleh karena itu penting bahwa mereka
datang bersama-sama untuk mengungkapkan sepenuhnya identitas Gereja, murid yang
dipanggil bersama oleh Tuhan Yang Bangkit yang mempersembahkan hidupnya “untuk
mempersatukan kembali anak-anak Allah yang tercerai-berai” (Yoh 11:52). Mereka
punya menjadi "satu" di dalam Kristus (lih. Gal 3:28) melalui karunia
Roh. kesatuan ini menjadi terlihat ketika orang-orang Kristen berkumpul
bersama: saat itulah mereka datang mengetahui dengan jelas dan bersaksi kepada
dunia bahwa mereka adalah orang-orang yang telah ditebus, dan diangkat “dari
setiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa” (Wahyu 5:9). Para murid-murid
Kristus dari zaman ke zaman mewujudkan citra orang Kristen perdana, seperti halnya
komunitas yang Lukas wartakan sebagai contoh dalam Kisah Para Rasul, ketika dia
menceritakan bahwa orang-orang percaya yang pertama dibaptis “mengabdikan diri
mereka untuk para rasul pengajaran dan persekutuan, hingga pemecahan roti dan
doa” (2:42).
Kesimpulan:
Dengan kebangkitan-Nya, Yesus masuk
ke dalam kemuliaan ilahi. Kebangkitan Yesus adalah kepenuhan hidup-Nya. Namun,
kebangkitan Yesus diimani dan diwartakan tidak hanya sebagai kepenuhan hidup,
tetapi terutama sebagai sumber keselamatan manusia. Karena itu, wafat dan
kebangkitan Kristus harus diwartakan.
Setelah kebangkitanNya, Yesus lalu
terangkat ke surga disaksikan para muridNya. Apa makna Yesus terangkat ke surga
itu bagi kita. Kenaikan Kristus ke surga menggambarkan langkah yang jelas dari
kodrat Yesus yang masuk dalam kemuliaan Allah di surga, darimana Ia akan datang
kembali untuk sementara tersembunyi bagi pandangan manusia (Bdk Kol 3:3).Yesus
Kristus, kepala Gereja, mendahului kita masuk ke dalam Kerajaan Kemuliaan Bapa,
supaya sebagai anggota-anggota Tubuh-Nya dapat hidup dalam harapan, sekaligus
juga akan hidup bersama Dia untuk selama-lamanya. Karena Yesus Kristus sudah
mauk ke dalam tempat kudus di surga untuk selamanya, maka Ia tanpa
henti-hentinya bertindak sebagai pengantara yang senantiasa mencurahkan Roh
Kudus-Nya ke atas kita.
Untuk itu, hal tersebut memberikan
kita kesadaran. Kematian bukanlah yang terakhir. Bukan yang penghabisan,
kendatipun dalam pengalaman kita, tidak ada yang lebih final atau akhir
daripada kematian. Yesus Kristus memaklumkan, bahkan cara maut tidak dapat
mencengkeram seorangpun dari kita ini.
Dewasa ini, kita tahu betapa
besarnya kekuatan yang menghancurkan alam maupun kebudayaan, manusia maupun
lingkungan. Kita sekarang menyadari betapa banyaknya alasan untuk putus harapan
dan untuk kehilangan optimis untuk memperjuangkan suatu dunia yang lebih baik
dan suatu masa depan yang lebih adil. Namun demikian kita diutus untuk
memaklumkan bahwa Kristus telah bangkit dengan jaya mengalahkan segalanya,
bahkan mengalahkan maut.
Kristus yang
bangkit itu menugaskan kita untuk menjadi pemberi kehidupan dan sama sekali
tidak menghancurkannya, menantang kita untuk meyakini bahwa bukan kejahatan dan
kegelapan melainkan kebaikan dan teranglah yang akan menang. Semoga setiap kita
mengalami bahwa pengorbanan hidup memberi kehidupan nyata kepada seorang
manusia;Lebih berbahagia memberi daripada menerima. Hidup menjadi lebih indah,
bila kita kehilangan hidup demi orang lain, daripada bila kita mati-matian
berusaha mempertahankan hidup kita sendiri.
.jpg)
.jpg)