-->

Beriman kepada Yesus dalam Karya, Sengsara, Wafat, dan Kebangkitan-Nya (Kurikulum Merdeka, Fase E, Semester 2)

 


BERIMAN KEPADA YESUS DALAM KARYA, SENGSARA, WAFAT DAN KEBANGKITANNYA

 

 

A. IMAN AKAN KERAJAAN ALLAH DAN KARYA HIDUP YESUS

 

Yesus selalu mewartakan Kerajaan Allah dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan. Hal itu, dilakukanNya agar orang dengan mudah menangkap dan memahaminya sesuai dengan situasi hidup seseorang. Melalui perumpamaan-perumpamaan itulah gagasan Yesus tentang Kerajaan Allah dapat diterima dan dipahami oleh orang-orang sederhana. Kerajaan Allah yaitu Allah yang datang sebagai Raja. Dengan kata lain: Kerajaan Allah adalah Allah memerintah (pemerintahan Allah) sebagai raja. Manusia yang membuka hati untuk dirajai oleh Allah, manusia itu akan menemukan  damai sejahtera, sukacita dan kebenaran. 

 

     Yesus mewartakan Kerajaan Allah juga melalui mukjizat Nya secara nyata. Kita bisa membacanya pada kutipan Mat 11:4-5

     Yesus menjawab mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik

 

Dalam buku yang ditulis oleh Paus Emeritus Benediktus berjudul “Yesus dari Nasaret”  pada bagian 1 dinyatakan begitu indah apa yang dimaksudkan tentang Kerajaan Allah

“Kerajaan Allah itu bukanlah suatu tempat, juga bukanlah kekuasaan geografis seperti kerajaan-kerajaan duniawi. Itu adalah seseorang; itulah Dia. Dalam penafsiran ini, istilah ‘Kerajaan Allah' sendiri merupakan Kristologi terselubung. Melalui caranya, Yesus berbicara tentang Kerajaan Allah, Yesus menuntun manusia untuk menyadari fakta yang luar biasa bahwa di dalam Dia, Allah sendiri hadir di antara mereka, bahwa Dia adalah bukti nyata hadirnya hadirat Allah.” (Paus, Yesus dari Nazaret, Bagian 1)

 

Yesus melakukan tindakan cinta kasih yang nyata, yaitu mengangkat keluhuran manusia. Yesus dekat dengan semua orang, karena itu Ia bergaul dengan semua. Yesus tidak mengkotak-kotakkan dan membuat kelas-kelas di antara manusia. Ia akrab dengan semua orang: para pemimpin agama (Yoh 7:42-52), penguasa bahkan penjajah (Mrk 7:1-10)  yang beritikad baik. Namun Ia juga akrab dengan orang miskin, pegawai pajak yang korup (Luk 19:1-10), dengan tuna susila (Luk 7:36-50) dan para penderita penyakit berbahaya yang dikucilkan. Pergaulan Yesus dengan orang-orang yang dianggap berdosa dan najis tidak sesuai dengan adat sopan santun dan peraturan agama yang berlaku pada saat itu. Yesus berani menjukirbalikkan peraturan-peratuan yang mapan, tetapi yang mengkotak-kotakan orang dan yang membatasi pergaulan manusia. Sudah sering kita temukan dalam berbagai kisah dalam Kitab Suci, bahwa Yesus sering dikecam karena Ia melanggar hari Sabat. Mengapa Yesus berani melanggar hari sabat? Perbuatan berkaitan dengan pandangan Yesus mengenai Hukum Taurat. Yesus memaklumkan bahwa Allah itu pembebas. Segala hukum, peraturan, dan perintah harus diabdikan kepada tujuan yaitu memerdekakan manusia. Maksud terdalam dari setiap hukum ialah membebaskan (atau menghindarkan) manusia dari segala sesuatu yang dapat menghalangi manusia berbuat baik. Begitu pula tujuan hukum Taurat. Sikap Yesus terhadap hukum taurat dapat diringkaskan dengan mengatakan bahwa Yesus selalu memandang hukum Taurat dalam terang hukum kasih.

 

     Tindakan Yesus, tidak hanya untuk diriNya sendiri. Melainkan tindakan yang menjadi gerakan bagi setiap orang. Untuk itu, Yesus dalam mewartakan Kerajaan Allah, Ia memanggil beberapa orang secara khusus untuk mengikuti-Nya dan menjadi rasul-rasul-Nya. Dan kita mengenal ada 12 rasul Yesus. Mereka itu dipanggil dan diutus oleh Yesus untuk meneruskan apa yang telah Ia mulai. Untuk itu mereka dituntut memiliki keterlibatan yang  luar biasa bagi warta cinta kasih. Oleh karena itu, mereka diminta untuk meninggalkan segala-galanya, selalu berjalan dan hidup dekat dengan Yesus, siap diutus, siap menderita dan siap untuk mewartakan hingga ujung bumi untuk semakin meluasnya Kerajaan Allah

 

 

B. IMAN AKAN SENGSARA DAN WAFAT YESUS

 

Kisah sengsara dan kematian Yesus merupakan kisah yang mampu menyentuh dan menginspirasi banyak orang. Bahkan, keempat kitab Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes masing-masing dengan caranya sendiri memiliki kisah yang berpusat pada sengsara dan wafat Yesus. Memang secara keseluruhan keempat kisah itu pada dasarnya sama. Namun demikian masing-masing penginjil dengan caranya yang khas mau menonjolkan aspek tertentu dari kisah itu. Maka kita pada bagian selanjutnya ini diajak secara mendalam menyadari dan memperdalam Sengsara dan  Wafat agar siswa semakin mengimani Kristus.

 

Dalam Kitab Yesaya 53:4-6.10,11 sengsara dan wafat Yesus telah dinubuatkan dengan begitu epik dan mendalam:

Sesungguhnya, dia telah menanggung penyakit dan penderitaan kita, dia telah memikulnya, tetapi kita menganggap dia kena kutuk, dihajar dan didera Elohim.Namun, dia ditikam karena pemberontakan kita, diremukkan karena kejahatan kita. Ganjaran demi keselamatan kita menimpa atasnya, dan melalui bilurnya dia telah menjadi kesembuhan bagi kita. Seperti domba, kita semua telah tersesat, kita masing-masing telah berbalik menurut jalannya sendiri, tetapi YAHWE telah menimpakan kepadanya kejahatan kita semua. Namun YAHWE berkehendak untuk meremukkannya, membuatnya sakit. Sekiranya dia menaruh jiwanya sebagai persembahan penghapus salah, dia akan melihat benihnya, dia akan memperpanjang hari-harinya, dan dalam tangannya kehendak YAHWE akan berhasil. “Melalui jerih lelah jiwanya dia akan melihat, dia akan dipuaskan. Dalam pengetahuannya, hamba-Ku yang benar itu akan membenarkan banyak orang, dan dia akan menanggung kejahatan mereka.

Wafat Yesus menyelamatkan manusia. Wafat Yesus bukanlah kebetulan, tetapi merupakan bagian dari misteri penyelamatan Allah. Kitab Suci sudah menubuatkan rencana penyelamatan ilahi melalui kematian, HambaKu yang Benar sebagai penebusan universal (Bdk Yes 52:13-53:12).

Dalam peristiwa salib, kita dapat mengenal penyertaan Allah dalam hidup manusia. Allah yang berbelas kasih tidak pernah meninggalkan manusia. Sekalipun manusia mengalami kesengsaraan dan penderitaan, Allah tetap beserta kita (Immanuel). Kesengsaraan dan wafat Yesus menjadi tanda agung kehadiran Kerajaan Allah karena member kesaksian tentang Allah yang sebenarnya, yakni Allah yang mahakasih. Allah dalam diri Yesus telah menjadi solider dengan manusia. Ia telah menjadi senasib dengan manusia sampai kepada kematian, bahkan kematian yang paling hina. Tidak ada wujud solidaritas yang lebih final dan lebih hebat daripada kematian Yesus. Yesus rela mati disalib di antara dua penjahat. Ia telah menjadi manusia, sama dewngan kaum tersisih dan terbuang.

 

Dokumen Ensiklik Gereja Deus Caritas Est (Allah adalah kasih) Artikel 12 yang ditulis oleh Paus emeritus Paus Benediktus XVI tahun 2006

Sampai sekarang kita memang berbicara terutama tentang Perjanjian Lama, tetapi selalu sudah nampak peresapan kedua Perjanjian itu sebagai satu Kitab iman kristiani. Kebaruan sesungguhnya dari Perjanjian Baru bukanlah gagasan baru, melainkan tokoh Kristus sendiri, yang memberi kepada gagasan darah dan daging, realisme yang baru. Sudah dalam Perjanjian Lama kebaruan alkitabiah tak terletak dalam gagasan, melainkan dalam tindakan Allah yang terduga dan dalam arti tertentu tak pernah terdengar. Tindakan Allah ini mengambil bentuk dramatis dalam hal bahwa Allah dalam Yesus Kristus sendiri mencari “domba yang hilang”, umat manusia yang menderita dan hilang. Bila Yesus dalam perumpamaan berbicara tentang gembala, yang mencari domba yang hilang, perempuan yang mencari dirham, bapa yang menyambut anak yang hilang dan memeluknya, maka itu sema bukan hanya kata-kata, melainkan penjelasan tentang diriNya dan tindakan-Nya. Dalam wafat-Nya di salib terwujudlah sikap Allah terhadap diri-Nya sendiri; Ia menganugerahkan diri untuk mengangkat dan menyelamatkan manusia – kasih dalam bentuk paling radikal. Pandangan kepada sisi Yesus yang ditembus yang diberitakan Yohanes (bdk. 19: 37), mengerti apa yang menjadi pangkal tulisan ini: “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4: 8). Di situ kebenaran ini dapat dilihat.

 

Wafat Yesus menunjukkan tanda kasih Allah. Kisah sengsara dan wafat Yesus dalam terang kebangkitan bagi jemaat dimengerti sebagai tanda yang sangat jelas yang menunjukkan kasih Allah. Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak bisana, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:16). Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yoh 15:13).

Santo Paulus dalam pengakuan iman menyatakan, “Kristus telah mati karena dosa-dosa kita (1Kor 15:3). Yesus mati untuk kepentingan kita. Hal ini ditegaskan oleh surat pertama Santo Petrus, “Sebab kamu tahu bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang fana, bukan pula dengan perak dan emas, melainkan dengan darah yangmahal, yaitu darah kristus yang sama seperti darah anak domba hang tak bernoda dan tak bercacat “(1 Ptr 1:18-19). Santo Paulus berkata Dialah yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya kita dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor 5:21). Wafat Yesus telah mempersatukan kita kembali dengan Allah. Rekonsiliasi antara kita dengan  Allah telah terjadi berkat kematian Yesus disalib.

 

 

C. IMAN AKAN KEBANGKITAN DAN KENAIKAN YESUS KE SURGA

 

Pada sub pokok bahasan ini, kita akan diajak belajar memahami bagaimana kebangkitan dan kenaikan Yesus di surga merupakan puncak dari Kisah sengsara dan wafat Yesus. Kebangkitan Yesus menjadi sangat berarti bagi iman kita untuk menggenapi sengsara dan wafat Yesus. Artinya sengsara dan wafat Yesus hanya memiliki arti bagi keselamatan kita, karena dilihat ada terang kebangkitan. Kebangkitan Kristus merupakan inti iman kita. Santo Paulus menegaskan, “andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu “ (1 Kor 15:14).

 

Mendalami Ajaran Kitab Suci (Yohanes 20:1-10)

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan. Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati.   Lalu pulanglah kedua murid itu ke rumah

 

Surat apostolik dari mendiang Paus Yohanes Paulus II, Dies Domini (Hari Tuhan) art 31 dikatakan, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:20). Janji Kristus ini tidak pernah berhenti bergema di Gereja sebagai rahasia abadi dan sumber harapan bagi kita. Sebagai hari kebangkitan, hari Minggu bukan hanya hari mengingat peristiwa masa lalu: itu adalah perayaan kehadiran hidup atas Kebangkitan Tuhan di tengah-tengah umat-Nya sendiri. Agar kehadiran ini diberitakan dan dihayati dengan benar, tidaklah cukup bahwa murid Kristus berdoa secara individu dan memperingati kematian dan Kebangkitan Kristus dalam kerahasiaan hati mereka semata. Mereka yang menerima anugerah baptisan tidak diselamatkan sebagai individu saja, tetapi sebagai anggota Tubuh Mistik, setelah menjadi bagian dari Umat Allah. Oleh karena itu penting bahwa mereka datang bersama-sama untuk mengungkapkan sepenuhnya identitas Gereja, murid yang dipanggil bersama oleh Tuhan Yang Bangkit yang mempersembahkan hidupnya “untuk mempersatukan kembali anak-anak Allah yang tercerai-berai” (Yoh 11:52). Mereka punya menjadi "satu" di dalam Kristus (lih. Gal 3:28) melalui karunia Roh. kesatuan ini menjadi terlihat ketika orang-orang Kristen berkumpul bersama: saat itulah mereka datang mengetahui dengan jelas dan bersaksi kepada dunia bahwa mereka adalah orang-orang yang telah ditebus, dan diangkat “dari setiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa” (Wahyu 5:9). Para murid-murid Kristus dari zaman ke zaman mewujudkan citra orang Kristen perdana, seperti halnya komunitas yang Lukas wartakan sebagai contoh dalam Kisah Para Rasul, ketika dia menceritakan bahwa orang-orang percaya yang pertama dibaptis “mengabdikan diri mereka untuk para rasul pengajaran dan persekutuan, hingga pemecahan roti dan doa” (2:42).

 

Kesimpulan:

Dengan kebangkitan-Nya, Yesus masuk ke dalam kemuliaan ilahi. Kebangkitan Yesus adalah kepenuhan hidup-Nya. Namun, kebangkitan Yesus diimani dan diwartakan tidak hanya sebagai kepenuhan hidup, tetapi terutama sebagai sumber keselamatan manusia. Karena itu, wafat dan kebangkitan Kristus harus diwartakan.

Setelah kebangkitanNya, Yesus lalu terangkat ke surga disaksikan para muridNya. Apa makna Yesus terangkat ke surga itu bagi kita. Kenaikan Kristus ke surga menggambarkan langkah yang jelas dari kodrat Yesus yang masuk dalam kemuliaan Allah di surga, darimana Ia akan datang kembali untuk sementara tersembunyi bagi pandangan manusia (Bdk Kol 3:3).Yesus Kristus, kepala Gereja, mendahului kita masuk ke dalam Kerajaan Kemuliaan Bapa, supaya sebagai anggota-anggota Tubuh-Nya dapat hidup dalam harapan, sekaligus juga akan hidup bersama Dia untuk selama-lamanya. Karena Yesus Kristus sudah mauk ke dalam tempat kudus di surga untuk selamanya, maka Ia tanpa henti-hentinya bertindak sebagai pengantara yang senantiasa mencurahkan Roh Kudus-Nya ke atas kita.

Untuk itu, hal tersebut memberikan kita kesadaran. Kematian bukanlah yang terakhir. Bukan yang penghabisan, kendatipun dalam pengalaman kita, tidak ada yang lebih final atau akhir daripada kematian. Yesus Kristus memaklumkan, bahkan cara maut tidak dapat mencengkeram seorangpun dari kita ini.

Dewasa ini, kita tahu betapa besarnya kekuatan yang menghancurkan alam maupun kebudayaan, manusia maupun lingkungan. Kita sekarang menyadari betapa banyaknya alasan untuk putus harapan dan untuk kehilangan optimis untuk memperjuangkan suatu dunia yang lebih baik dan suatu masa depan yang lebih adil. Namun demikian kita diutus untuk memaklumkan bahwa Kristus telah bangkit dengan jaya mengalahkan segalanya, bahkan mengalahkan maut.

Kristus yang bangkit itu menugaskan kita untuk menjadi pemberi kehidupan dan sama sekali tidak menghancurkannya, menantang kita untuk meyakini bahwa bukan kejahatan dan kegelapan melainkan kebaikan dan teranglah yang akan menang. Semoga setiap kita mengalami bahwa pengorbanan hidup memberi kehidupan nyata kepada seorang manusia;Lebih berbahagia memberi daripada menerima. Hidup menjadi lebih indah, bila kita kehilangan hidup demi orang lain, daripada bila kita mati-matian berusaha mempertahankan hidup kita sendiri.

LihatTutupKomentar