-->

SOAL UJIAN SEMESTER GANJIL: KELAS XI (FASE F), SEMESTER GANJIL (1), KURIKULUM MERDEKA

 


SOAL

 

Nama Sekolah  : SMK Sanjaya Bajawa

Mapel               : Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti

Fase/Kelas        : F/XI

Semester           : Ganjil

 

 

1. Kisah Para Rasul 2:41-47 melukiskan kehidupan Gereja Perdana yang ditandai oleh persekutuan, pemecahan roti, doa, dan berbagi harta dengan sehati sejiwa. Jika semangat berbagi harta dan hidup dalam kebersamaan tersebut diimplementasikan secara radikal dalam konteks masyarakat modern Indonesia yang cenderung individualistis dan terfragmentasi, dampak transformatif paling signifikan apa yang akan terjadi pada kehidupan sosial-ekonomi umat Katolik?

A. Menguatnya peran hierarki Gereja dalam mengatur seluruh aset pribadi umat secara terpusat.

B. Terhapusnya kesenjangan sosial-ekonomi dan peningkatan solidaritas sosial melalui kepedulian yang mendalam.

C. Umat Katolik akan menjadi kelompok minoritas yang semakin eksklusif dan tertutup dari masyarakat luas.

D. Setiap umat akan diwajibkan menyumbangkan 10% dari penghasilannya untuk kas Gereja Paroki.

 

2. Sebelum Konsili Vatikan II, fokus pemahaman Gereja cenderung pada aspek institusional dan hierarkis (Gereja sebagai Societas Perfecta). Konsili Vatikan II, khususnya melalui dokumen dogmatis Lumen Gentium, mengubah penekanan menjadi model Gereja sebagai Umat Allah. Perubahan teologis ini memiliki implikasi pastoral yang sangat besar. Manakah di antara pernyataan berikut yang merupakan tuntutan paling mendasar dari perubahan teologis ini bagi setiap anggota Gereja?

A. Menghapus peran uskup dan imam, digantikan oleh dewan awam yang bertugas memimpin paroki.

B. Kewajiban untuk mematuhi semua ajaran hierarki tanpa perlu dipertanyakan, karena hierarki adalah wakil Kristus.

C. Mengurangi pentingnya sakramen dan liturgi demi kegiatan sosial-ekonomi dan politik.

D. Setiap anggota Gereja, terutama kaum awam, dipanggil untuk berpartisipasi aktif dan bertanggung jawab penuh dalam perutusan Gereja di tengah dunia.

 

3. Konsep Gereja sebagai Umat Allah menekankan bahwa semua yang dibaptis berbagi dalam tiga tugas Kristus sebagai Imam, Nabi, dan Raja. Dalam konteks kehidupan sehari-hari sebagai seorang siswa/i Katolik, perwujudan paling nyata dari tugas Kenabian (Pewartaan/Kerygma) yang menunjukkan tanggung jawab sebagai Umat Allah adalah...

A. Berani menyuarakan kebenaran, menolak perundungan, dan bersaksi .

B. Aktif dalam kegiatan amal dan pengumpulan dana untuk korban bencana.

C. Rutin membantu membersihkan dan mendekorasi gereja paroki.

D. Menghadiri Misa Kudus setiap hari Minggu tanpa pernah absen.

 

4. Sebuah paroki di kota besar menghadapi masalah tingginya angka pengangguran di kalangan remaja putus sekolah dari keluarga kurang mampu di wilayahnya. Jika Paroki tersebut hendak mewujudkan dirinya secara nyata sebagai Gereja Umat Allah dalam dimensi Diakonia (Pelayanan), manakah tindakan yang paling holistik dan berkelanjutan untuk mengatasi masalah ini?

A. Memberikan bantuan makanan instan dan uang tunai secara rutin setiap bulan kepada keluarga yang terdampak.

B. Mengajak para imam untuk lebih sering mendoakan mereka dalam setiap Misa agar mendapat pekerjaan.

C. Melakukan demonstrasi ke kantor pemerintahan setempat menuntut penyediaan lapangan kerja.

D. Membentuk tim yang terdiri dari kaum awam profesional untuk menyelenggarakan pelatihan keterampilan dan mendirikan pusat wirausaha bagi remaja tersebut.

 

5. Dalam model Gereja sebagai Umat Allah (communio), hierarki (Uskup, Imam, Diakon) dan kaum awam memiliki martabat yang sama sebagai Tubuh Kristus, namun memiliki fungsi yang berbeda. Semangat persatuan (koinonia) menuntut adanya dialog, kerja sama, dan tanggung jawab bersama. Manakah dari situasi berikut yang paling mencerminkan kegagalan dalam mewujudkan semangat persatuan (koinonia) di antara hierarki dan kaum awam?

A.Seorang Uskup mengadakan Sinode Keuskupan untuk mendengarkan masukan dan aspirasi dari berbagai kelompok umat sebelum menetapkan arah pastoral.

B.Dewan Paroki Harian (DPH) yang seluruh anggotanya adalah kaum awam, bekerja sama dengan Pastor Paroki dalam membuat keputusan pastoral.

C.Beberapa kaum awam berinisiatif membentuk kelompok doa lingkungan baru atas persetujuan Pastor Paroki dan Keuskupan.

D.Pastor Paroki mengambil semua keputusan strategis dan kebijakan program kerja paroki tanpa melibatkan Dewan Paroki Harian (DPH) atau mendengarkan aspirasi umat.

 

6. Dokumen Gaudium et Spes dari Konsili Vatikan II secara eksplisit menyatakan bahwa kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan umat manusia, terutama kaum miskin dan mereka yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Jika seorang siswa Katolik menemukan teman sekelasnya yang berbeda agama mengalami tekanan mental akibat kemiskinan dan ketidakadilan, perwujudan paling otentik dari semangat Gereja sebagai Persekutuan yang Terbuka berdasarkan Gaudium et Spes adalah...

A.Membentuk kelompok pendukung lintas iman untuk mencari solusi praktis, memberikan dukungan emosional, dan melakukan advokasi terhadap ketidakadilan yang dialami teman tersebut.

B.Mengajak teman tersebut untuk mengikuti kegiatan keagamaan Katolik agar menemukan kedamaian.

C.Membatasi bantuan hanya pada doa pribadi, karena urusan sosial-ekonomi adalah urusan negara, bukan Gereja.

D.Menyumbang sejumlah uang secara anonim tanpa perlu terlibat lebih jauh dalam masalahnya.

 

7. Gereja sebagai persekutuan yang terbuka sangat menekankan semangat dialog antaragama. Dialog ini tidak hanya bertujuan untuk saling mengenal, tetapi juga untuk bersama-sama membangun kebaikan bersama (Bonum Commune) dalam masyarakat. Jika sebuah komunitas Katolik ingin memulai dialog yang otentik dan transformatif dengan komunitas Muslim di lingkungan sekitar, strategi yang paling efektif untuk mencapai tujuan Bonum Commune adalah...

A.Mengharuskan komunitas Muslim untuk memahami dan menginternalisasi ajaran sosial Katolik sebagai dasar kerja sama.

B.Mengundang tokoh agama lain hanya untuk memberikan ucapan selamat dalam perayaan Hari Raya Katolik tanpa keterlibatan lebih lanjut.

C.Mengidentifikasi masalah sosial bersama, seperti sampah lingkungan atau kemiskinan, dan membentuk tim kerja gabungan lintas iman untuk merancang serta mengimplementasikan solusi nyata.

D.Mengadakan seminar teologi besar yang membahas perbedaan doktrinal antara Islam dan Katolik secara mendalam.

 

8. Gereja sebagai persekutuan yang terbuka sangat menekankan semangat dialog antaragama. Dialog ini tidak hanya bertujuan untuk saling mengenal, tetapi juga untuk bersama-sama membangun kebaikan bersama (Bonum Commune) dalam masyarakat. Jika sebuah komunitas Katolik ingin memulai dialog yang otentik dan transformatif dengan komunitas Muslim di lingkungan sekitar, strategi yang paling efektif untuk mencapai tujuan Bonum Commune adalah...

A.Mengharuskan komunitas Muslim untuk memahami dan menginternalisasi ajaran sosial Katolik sebagai dasar kerja sama.

B.Mengundang tokoh agama lain hanya untuk memberikan ucapan selamat dalam perayaan Hari Raya Katolik tanpa keterlibatan lebih lanjut.

C.Mengidentifikasi masalah sosial bersama, seperti sampah lingkungan atau kemiskinan, dan membentuk tim kerja gabungan lintas iman untuk merancang serta mengimplementasikan solusi nyata.

D.Mengadakan seminar teologi besar yang membahas perbedaan doktrinal antara Islam dan Katolik secara mendalam.

 

9. Prinsip 'Subsidiaritas' (saling membantu dari bawah ke atas) dan 'Solidaritas' (rasa persaudaraan yang bertanggung jawab) adalah pilar Ajaran Sosial Gereja yang mencerminkan keterbukaan dan kepedulian Gereja terhadap tatanan sosial. Dalam menghadapi kasus korupsi besar yang melukai kebaikan umum di tingkat nasional, manakah tindakan yang paling tepat dan solider dari kaum awam Katolik yang mencerminkan prinsip-prinsip ini?

A.Membiarkan kasus tersebut ditangani sepenuhnya oleh penegak hukum tanpa adanya komentar atau keterlibatan dari umat.

B.Menunggu instruksi resmi dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sebelum mengambil sikap atau tindakan apa pun.

C.Melakukan demo besar-besaran dengan simbol-simbol keagamaan untuk menunjukkan kekuatan Katolik dalam menentang korupsi.

D.Melakukan kritik vokal dan advokasi melalui lembaga-lembaga masyarakat sipil Katolik untuk menuntut transparansi, serta mendukung upaya reformasi sistem anti-korupsi di tingkat akar rumput.

 

10. Model Gereja sebagai 'Sakramen Keselamatan' (tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia) menegaskan bahwa misi Gereja melampaui batas-batasnya sendiri. Dalam konteks isu global tentang krisis iklim dan kerusakan lingkungan, bagaimana Gereja Katolik secara kolektif dapat menjadi tanda yang paling efektif dari 'kesatuan seluruh umat manusia'?

A.Mewajibkan semua umat Katolik untuk hanya menggunakan produk-produk yang bersertifikat 'halal' agar sesuai dengan standar etika lingkungan tertentu.

B.Bekerja sama dengan organisasi-organisasi non-pemerintah (NGO) dan komunitas agama lain untuk mempromosikan gaya hidup berkelanjutan, melakukan reboisasi bersama, dan mengadvokasi kebijakan lingkungan yang berpihak pada kaum miskin.

C.Memfokuskan seluruh dana Paroki untuk membangun instalasi tenaga surya di semua bangunan Gereja Katolik di seluruh dunia.

D.Mengeluarkan ensiklik baru yang hanya ditujukan kepada para pemimpin negara-negara Katolik agar segera mengatasi krisis iklim.

 

11. Keterbukaan Gereja juga tampak dalam sikapnya terhadap orang yang tidak mengenal Kristus atau bahkan beragama lain. Ajaran Katolik menegaskan bahwa Rencana Keselamatan Allah meliputi juga mereka yang dengan tulus hati mencari Allah dan berusaha hidup baik berdasarkan suara hati. Implikasi teologis dari ajaran ini terhadap cara umat Katolik memandang orang-orang yang beriman lain adalah...

A.Menghormati dan mengakui bahwa benih-benih kebenaran dan kekudusan dapat ditemukan di antara mereka, sehingga kerja sama untuk memajukan kebaikan harus diupayakan.

B.Memandang agama lain sebagai sesuatu yang berbahaya dan wajib dihindari agar iman Katolik tidak tercemar.

C.Menganggap orang beriman lain hanya sebagai objek pewartaan (target konversi) dan bukan sebagai mitra dialog.

D.Menganggap bahwa semua agama pada dasarnya sama dan tidak ada perbedaan yang mendasar antara ajaran-ajaran tersebut.

 

12. 1 Petrus 2:5-10 melukiskan Gereja sebagai 'batu-batu hidup' yang dibangun menjadi 'rumah rohani', 'imamat rajani', dan 'bangsa yang terpilih'. Metafora ini menekankan bahwa setiap anggota Gereja memiliki martabat dan panggilan yang sama dalam Kristus. Jika ajaran ini dihayati secara mendalam, implikasi paling signifikan terhadap cara umat Katolik memandang dan memperlakukan kelompok minoritas atau terpinggirkan di dalam Gereja sendiri adalah...

A.Menguatnya peran hierarki Gereja dalam mengatur seluruh aspek kehidupan umat, karena merekalah 'batu penjuru' yang utama.

B.Mengakui bahwa setiap anggota, terlepas dari status, kekayaan, atau kemampuan, adalah 'batu hidup' yang penting dan harus diberi ruang untuk berpartisipasi penuh dalam perutusan Gereja.

C.Mengharuskan kelompok minoritas untuk sepenuhnya menyesuaikan diri dengan tradisi mayoritas agar tercipta kesatuan yang seragam.

D.Meningkatnya kesadaran untuk memisahkan diri menjadi kelompok-kelompok kecil berdasarkan kesamaan budaya atau status sosial.

 

13. Salah satu ikatan kesatuan Gereja yang diajarkan Gereja Katolik adalah pengakuan iman yang sama (Kredo Nicea-Konstantinopel). Dalam konteks munculnya berbagai interpretasi baru mengenai ajaran moral dan sosial dalam Gereja, manakah tindakan yang paling mencerminkan upaya memelihara dan mewujudkan kesatuan iman di tengah perbedaan pandangan yang sah?

A.Setiap umat berhak menafsirkan doktrin dan ajaran sesuai dengan preferensi pribadinya, karena Allah itu Maha Kasih.

B.Menghindari topik-topik moral dan sosial yang kontroversial untuk menjaga perdamaian superfisial di kalangan umat.

C.Mengharuskan semua umat Katolik untuk sepenuhnya menerima pandangan teologis yang paling konservatif dalam setiap isu.

D.Mendalami ajaran Gereja yang disajikan oleh Magisterium (para Uskup dalam kesatuan dengan Paus) sambil berdialog secara kritis dan konstruktif dengan teologi yang sah.

 

14. Fenomena skisma (perpecahan dalam kesatuan gerejawi yang melanggar ikatan persatuan) adalah tantangan historis bagi Gereja yang Satu. Jika sebuah komunitas Katolik di Indonesia sedang menghadapi perpecahan serius karena perbedaan etnis dan budaya yang kuat, solusi yang paling efektif dan teologis untuk mengatasi perpecahan tersebut adalah...

A.Memisahkan kelompok-kelompok etnis yang berbeda ke dalam paroki-paroki yang berbeda untuk mencegah konflik lebih lanjut.

B.Meminta bantuan dana dari pusat Keuskupan untuk menyelesaikan masalah etnis tersebut secara finansial.

C.Menetapkan satu etnis dominan sebagai standar budaya dalam semua kegiatan Gereja Paroki.

D.Menghidupkan Liturgi dan pelayanan sosial sebagai titik temu, menekankan bahwa di meja perjamuan Kristus dan dalam pelayanan kasih, perbedaan etnis tidak lagi menjadi penghalang.

 

15. Gerakan ekumenisme adalah dorongan Gereja untuk mencari kembali kesatuan penuh antara Gereja Katolik dengan Gereja-gereja Kristen lainnya (misalnya, Ortodoks, Protestan). Manakah sikap dan tindakan kaum awam Katolik yang paling mencerminkan semangat ekumenisme yang otentik dalam kehidupan sehari-hari?

A.Membuat kampanye besar-besaran untuk meyakinkan umat Kristen lain agar berpindah ke Gereja Katolik (proselytism).

B.Bekerja sama dengan umat Kristen lain dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, dan berdoa bersama untuk persatuan, sambil menghormati kekhasan teologis masing-masing tradisi.

C.Berpartisipasi dalam kebaktian dan ritual agama Gereja lain, meskipun Gereja Katolik melarang komuni sakramental secara penuh (Communicatio in Sacris).

D.Menganggap semua baptisan Gereja lain tidak sah dan hanya menganggap umat Katolik sebagai anggota Gereja Kristus yang sejati.

 

16. Ajaran Gereja yang Satu menekankan bahwa meskipun terdapat keragaman ritus, karunia, dan jabatan, Gereja dipersatukan oleh satu Roh Kudus. Dalam konteks Paroki, seorang umat memiliki karisma yang menonjol di bidang musik liturgi, tetapi ia menolak untuk melayani karena ia tidak setuju dengan Pastor Paroki dalam hal kebijakan keuangan. Manakah kesimpulan yang paling tepat untuk menilai sikap umat ini berdasarkan ajaran tentang Gereja yang Satu?

A.Sikapnya dapat dibenarkan, karena karunia Roh Kudus harus digunakan untuk melawan kebijakan yang dianggapnya salah.

B.Ia harus segera keluar dari Paroki dan mencari Gereja lain yang sesuai dengan pandangan politik dan keuangannya.

C.Ia gagal mewujudkan kesatuan Gereja karena karunia yang diberikan oleh Roh Kudus dimaksudkan untuk membangun Tubuh Kristus secara keseluruhan, bukan untuk menuntut kepentingan pribadi atau menolak persekutuan.

D.Kebijakan keuangan lebih penting daripada karunia musik, sehingga konflik ini harus diselesaikan secara hukum sebelum ia melayani kembali.

 

17. Dalam doa perpisahan-Nya (Yohanes 17:11), Yesus berdoa, 'Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka satu sama seperti Kita.' Berdasarkan ayat ini, inti dari kekudusan yang diminta Yesus bagi para murid-Nya adalah...

A.Kesatuan yang mendalam antara para murid, yang meniru kesatuan sempurna antara Yesus dengan Allah Bapa.

B.Kemampuan para rasul untuk melakukan mukjizat penyembuhan dan mengusir roh jahat.

C.Ketaatan pada semua hukum Taurat dan ritual agama Yahudi secara sempurna.

D.Keterpisahan total para murid dari dunia dan semua hal yang berdosa.

 

18. Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Lumen Gentium art. 23, mengajarkan bahwa seluruh Umat Allah dipersatukan oleh satu gembala dan dihubungkan secara erat dengan Bapa Suci. Dokumen ini juga menekankan Kekudusan Gereja adalah karena Allah sendirilah sumbernya. Dalam konteks kasus pelanggaran moral serius yang dilakukan oleh sejumlah oknum klerus, bagaimana ajaran ini dapat membantu umat Katolik mempertahankan imannya terhadap kekudusan Gereja?

A.Umat hanya perlu fokus pada ibadat dan menjauhi semua kegiatan sosial Gereja yang melibatkan oknum-oknum yang berdosa.

B.Kekudusan Gereja hilang karena dosa-dosa oknum tersebut, sehingga umat harus mencari gereja baru yang benar-benar kudus.

C.Meyakini bahwa Gereja adalah kudus karena Kristus, meskipun sebagai persekutuan manusia Gereja senantiasa membutuhkan pertobatan dan pemurnian (Gereja sancta et semper purificanda).

D.Kekudusan Gereja terletak pada kesempurnaan dan kesucian mutlak para pemimpinnya, sehingga dosa klerus harus ditutup-tutupi demi menjaga citra Gereja.

 

19. Gereja mengajarkan bahwa panggilan universal untuk kekudusan berlaku bagi semua umat beriman, bukan hanya bagi para biarawan/biarawati atau klerus. Kekudusan ini diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan kerja. Manakah di antara contoh berikut yang paling mencerminkan perwujudan kekudusan seorang awam Katolik yang berprofesi sebagai pejabat publik (pegawai negeri)?

A.Menghadiri Misa Kudus setiap hari sebelum memulai pekerjaannya di kantor.

B.Secara terbuka berusaha mengkonversi semua rekan kerja yang berbeda agama menjadi Katolik.

C.Menjaga integritas, menolak segala bentuk korupsi, dan menggunakan jabatannya untuk melayani publik dengan adil dan profesional, meskipun harus menghadapi tekanan politik.

D.Menghabiskan seluruh waktunya untuk kegiatan internal Paroki dan Komunitas Basis, dengan mengabaikan tugas-tugas di kantor.

 

20. Gereja yang Kudus dipanggil untuk menjadi 'garam dan terang dunia' (Mat 5:13-16). Menjadi garam berarti memberi rasa dan menjadi terang berarti menghilangkan kegelapan. Dalam konteks lingkungan sekolah yang seringkali diwarnai oleh budaya hedonisme (mencari kesenangan) dan apatis (tidak peduli), peran apa yang harus diambil oleh Kelompok Kategorial Katolik (seperti OMK Paroki atau Kelompok Kategorial Sekolah) untuk menjadi garam dan terang yang efektif?

A.Melakukan tindakan sosial yang ekstrem, seperti aksi protes besar-besaran terhadap hiburan yang dianggap tidak bermoral, tanpa dialog atau pemahaman.

B.Hanya menyelenggarakan kegiatan doa dan Misa Kudus yang tertutup bagi anggota Katolik saja, untuk menjaga kekudusan internal kelompok.

C.Menjauhkan diri sepenuhnya dari pergaulan yang berpotensi negatif demi menjaga kemurnian diri.

D.Menciptakan lingkungan yang menunjukkan kegembiraan iman, mempromosikan nilai-nilai positif (seperti kepedulian, kejujuran, dan kreativitas), dan memberikan kesaksian hidup yang menarik bagi teman-teman sebaya.

 

21. Kekudusan Gereja dihubungkan erat dengan pertobatan yang terus-menerus (semper purificanda). Pertobatan ini tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga struktural atau komunal. Manakah dari upaya Paroki berikut yang paling mencerminkan pertobatan struktural dan komunal untuk mendekatkan Paroki pada panggilan kekudusannya?

A. Mengecualikan umat yang jarang datang ke gereja dari semua kegiatan Paroki.

B.Mengadakan reformasi dalam tata kelola keuangan Paroki, memastikan transparansi, akuntabilitas, dan keterlibatan awam dalam pengawasannya, untuk menghilangkan potensi korupsi atau penyalahgunaan dana.

C.Mewajibkan semua umat untuk mengaku dosa minimal satu kali dalam setahun.

D.Hanya memfokuskan pelayanan pada keluarga-keluarga kaya yang mampu menyumbang besar untuk Paroki.

 

22. Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Lumen Gentium art. 13, menyatakan bahwa dalam kesatuan Gereja yang Katolik, 'terdapat Gereja-Gereja partikular yang memiliki tradisi mereka sendiri.' Ajaran ini menegaskan bahwa kekatolikan tidak berarti keseragaman, melainkan kesatuan dalam keberagaman. Jika sebuah Keuskupan di Indonesia ingin mewujudkan kekatolikan secara otentik melalui inkulturasi liturgi, tindakan apakah yang paling efektif dan teologis?

A.Mempertahankan tata cara liturgi dari Roma secara kaku tanpa memasukkan unsur budaya lokal sedikit pun.

B.Mengubah total tata cara Ekaristi agar sesuai dengan ritual suku setempat, tanpa memperhatikan norma universal Gereja.

C.Mengecualikan semua unsur budaya yang berbeda dengan budaya mayoritas di Keuskupan tersebut.

D.Menggunakan bahasa, alat musik, dan gerakan tari lokal secara bermartabat dalam Liturgi, setelah melalui proses studi dan persetujuan dari otoritas Gereja yang berwenang.

 

23. Sifat Katolik (Universalitas) dari Gereja berarti bahwa Injil harus diwartakan kepada semua orang, tanpa memandang ras, budaya, atau batas geografis. Dalam konteks misi global, seorang misionaris Katolik dihadapkan pada masyarakat yang budayanya sangat menghargai roh nenek moyang. Untuk mewujudkan kekatolikan (menghadirkan Injil secara universal) dalam situasi ini, pendekatan yang paling tepat adalah...

A.Mengajarkan Injil hanya menggunakan bahasa dan istilah teologis dari Vatikan, tanpa penyesuaian budaya sedikit pun.

B.Menggunakan konsep hormat kepada leluhur dan roh sebagai sarana untuk memperkenalkan penghormatan kepada para Kudus dan persatuan dengan Allah Bapa melalui Kristus.

C.Menganut secara penuh dan total tradisi hormat roh nenek moyang agar diterima oleh masyarakat setempat.

D.Menolak dan melarang secara keras semua tradisi yang berkaitan dengan roh nenek moyang sebagai bentuk kekafiran.

 

24. Sifat Katolik juga berarti bahwa Gereja harus mencakup kepenuhan sarana keselamatan yang diberikan Kristus, termasuk Sabda Allah, Sakramen-sakramen, dan pelayanan hirarkis. Jika sebuah Paroki mengalami kesulitan dalam menarik kaum muda, yang mengakibatkan Sakramen Krisma dan Ekaristi jarang diikuti, manakah strategi yang paling komprehensif untuk memulihkan kepenuhan sarana keselamatan ini?

A.Membentuk tim khotbah yang sangat karismatik untuk menarik kaum muda kembali ke Gereja.

B.Memutuskan untuk tidak lagi menyelenggarakan Sakramen Krisma karena tidak populer di kalangan kaum muda.

C.Merevitalisasi katekese Krisma dan Ekaristi yang relevan, serta menyediakan ruang bagi kaum muda untuk aktif terlibat dalam pelayanan Paroki dan pengambilan keputusan, sebagai pemahaman mendalam tentang Sakramen.

D.Membuat aturan wajib bagi semua kaum muda untuk mengikuti Sakramen Krisma, dengan ancaman sanksi jika tidak hadir.

 

25. Gereja yang Katolik juga berarti Gereja memiliki dimensi eskatologis (berkaitan dengan akhir zaman), di mana ia menjadi tanda dan janji tentang Kerajaan Allah yang akan datang. Dalam menghadapi situasi masyarakat yang semakin pesimistis terhadap masa depan dan terjerumus dalam kekerasan, bagaimana Gereja dapat menjadi tanda eskatologis yang meyakinkan?

A.Melalui kesaksian hidup komunitas yang menjunjung tinggi perdamaian, keadilan, dan harapan, menunjukkan bahwa Kerajaan Allah dapat diwujudkan secara nyata di tengah penderitaan dunia.

B.Mewartakan bahwa akhir dunia sudah dekat dan hanya umat Katolik yang akan diselamatkan.

C.Membangun benteng fisik yang besar sebagai tempat perlindungan bagi umat Katolik ketika kekerasan terjadi.

D.Menarik diri dari keterlibatan sosial-politik karena urusan dunia dianggap fana dan tidak penting bagi kekudusan.

 

26. Dalam Gereja yang Katolik, terdapat keanekaragaman ritus yang sah (misalnya, Ritus Latin, Ritus Timur). Meskipun berbeda dalam tata cara perayaan Sakramen, semuanya diikat oleh satu iman dan kepemimpinan Paus. Jika seorang umat Katolik Ritus Latin bepergian dan ingin menghadiri Misa di Ritus Timur (misalnya, Ritus Yunani Katolik), manakah yang paling mencerminkan pemahaman yang benar tentang kekatolikan dalam hubungannya dengan ritus tersebut?

A.Ia dapat menerima Komuni Kudus di Ritus Timur dan menganggapnya sebagai Ekaristi yang sah, meskipun tata caranya berbeda secara signifikan.

B.Ia diizinkan mengubah tata cara Ritus Timur menjadi Ritus Latin agar lebih nyaman.

C.Ia dapat menghadiri Misa, tetapi tidak boleh menerima Komuni Kudus karena liturgi Ritus Timur berbeda dari Ritus Latin.

D.Ia harus menghindari perayaan Ritus Timur karena berbeda dalam tata cara, dan mencari Gereja Ritus Latin terdekat.

 

27. Matius 28:16-20 mencatat Amanat Agung Yesus kepada para murid, yang berisi perintah untuk pergi, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, baptislah mereka, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Jika seorang siswa Katolik mengaplikasikan Amanat Agung ini secara radikal dalam konteks masyarakat multikultural dan majemuk di Indonesia, wujud perutusan apostolik yang paling otentik adalah...

A.Mengubah agama semua teman yang berbeda keyakinan melalui perdebatan teologis yang intensif dan konfrontatif.

B.Melakukan baptisan secara diam-diam kepada semua teman yang belum dibaptis tanpa pemahaman iman yang memadai.

C.Menjadi teladan integritas, keadilan, dan kasih dalam pergaulan sehari-hari, serta berani berbagi nilai-nilai Injil melalui dialog persahabatan dengan semua orang, tanpa memandang latar belakang.

D.Fokus pada pengajaran ajaran Katolik hanya kepada teman-teman Katolik di dalam kelompok katekese Gereja Paroki.

 

28. Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Lumen Gentium art. 23, menekankan bahwa para Uskup, sebagai pengganti para Rasul, memelihara dan memimpin Gereja partikular mereka dalam kesatuan dengan Paus. Prinsip Kolegialitas Uskup (kesatuan antar Uskup dengan Paus) ini sangat penting bagi sifat apostolik Gereja. Jika Uskup dari Keuskupan A dihadapkan pada masalah sosial yang mendesak di wilayahnya, manakah tindakan yang paling mencerminkan penerapan kolegialitas apostolik ini?

A.Mengambil keputusan dan mengumumkan kebijakan pastoral secara sepihak, karena ia bertanggung jawab penuh atas Keuskupan partikularnya.

B.Berkonsultasi dengan Paus dan sesama Uskup lain (Konferensi Waligereja) untuk memastikan responsnya konsisten dengan ajaran Gereja universal dan mendapat dukungan kolektif Gereja.

C.Mengadakan pemungutan suara di antara semua umat paroki untuk memutuskan tindakan yang akan diambil, tanpa melibatkan Paus atau sesama Uskup.

D.Mengabaikan masalah tersebut karena ia harus menunggu Dewan Ekumenis (Sinode) Universal untuk membahasnya terlebih dahulu.

 

29. Sifat Apostolik Gereja tercermin dalam Suksesi Apostolik, yaitu suksesi yang tidak terputus dari para Rasul melalui pentahbisan Uskup. Konsep ini memiliki implikasi mendalam bagi kaum awam. Manakah di antara pernyataan berikut yang paling tepat menjelaskan bagaimana kaum awam berpartisipasi dalam sifat Apostolik Gereja?

A.Kaum awam harus mendirikan komunitas gerejawi independen yang tidak terikat pada otoritas Uskup.

B.Kaum awam berpartisipasi dalam perutusan apostolik Kristus dengan menjalankan tugas Kenabian, Imami, dan Rajawi di dalam keluarga, profesi, dan tatanan duniawi.

C.Kaum awam berhak ikut serta dalam pentahbisan Uskup baru untuk menjamin kesinambungan Suksesi Apostolik.

D.Kaum awam hanya perlu mendukung para Uskup dan Imam secara finansial dan pasif, karena mereka tidak menerima Sakramen Tahbisan.

 

30. Perutusan Gereja yang Apostolik menuntut keberanian untuk 'keluar' dari zona nyaman dan mewartakan Injil di 'pinggiran' masyarakat. Jika sebuah Paroki yang mapan secara ekonomi dan sosial berada di lingkungan yang berdekatan dengan komunitas pemulung yang terpinggirkan, perwujudan misi apostolik yang paling transformatif adalah...

A.Mengutus tim pastoral untuk berdiskusi dengan komunitas pemulung dan mengajarkan mereka doa-doa Paroki.

B.Membentuk kelompok awam untuk secara teratur mengunjungi komunitas pemulung, membangun hubungan pribadi, menyelenggarakan program edukasi kesehatan, dan membantu advokasi hak-hak mereka.

C.Mengundang komunitas pemulung untuk menghadiri Misa di Paroki, tetapi Paroki tidak perlu terlibat dalam lingkungan mereka.

D.Mengumpulkan dana dari Paroki dan memberikannya kepada pemerintah untuk membangun rumah bagi komunitas pemulung tersebut.

 

31. Salah satu tantangan bagi Gereja yang Apostolik adalah pluralitas teologis dan pastoral yang kadang menyebabkan kebingungan di kalangan umat. Ada kelompok yang menganggap Gereja harus sangat konservatif, sementara yang lain menuntut reformasi radikal. Manakah sikap Umat Katolik yang paling mencerminkan kebijaksanaan apostolik dalam menanggapi tantangan ini?

A.Mendalami ajaran Gereja (Magisterium) yang berpegang teguh pada Tradisi (warisan para Rasul) sambil secara kritis dan terbuka terlibat dalam dialog pastoral yang relevan dengan kebutuhan zaman.

B.Menganggap semua perbedaan pendapat teologis sebagai dosa dan menuntut penyingkiran semua pihak yang berbeda pandangan.

C.Hanya menerima dan mengikuti ajaran dari Pastor Paroki sendiri, tanpa peduli dengan ajaran dari uskup atau Paus.

D.Menolak semua ajaran Gereja yang telah berusia lama dan hanya berpegang pada tren sosial dan teologi terbaru.

 

32. Dalam Yohanes 21:15-19, Yesus secara khusus menugaskan Petrus, setelah bertanya tiga kali tentang kasihnya, untuk 'Gembalakanlah domba-domba-Ku'. Perintah ini tidak hanya memberikan otoritas, tetapi juga menetapkan model kepemimpinan dalam Gereja. Implikasi paling mendasar dari penugasan “menggembalakan” ini terhadap cara Paus dan Uskup melaksanakan jabatan mereka adalah...

A.Bertindak sebagai pemimpin yang otoriter dan menuntut ketaatan buta dari umat beriman.

B.Memisahkan diri dari umat dan mengambil peran sebagai pengajar doktrin yang hanya mengurusi masalah teologis.

C.Melaksanakan tugas kepemimpinan dengan kasih, mencari yang tersesat, melindungi yang lemah, dan menyediakan santapan rohani (Sabda dan Sakramen) bagi seluruh umat.

D.Mengutamakan kekuasaan dan otoritas hukum dalam pengambilan keputusan atas pertimbangan pastoral.

 

33. Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Lumen Gentium art. 18, menyatakan bahwa Paus, sebagai penerus Petrus, adalah 'asas dan dasar kesatuan yang tetap dan kelihatan bagi uskup-uskup maupun segenap kaum beriman'. Jika terjadi perdebatan hebat di antara umat Katolik di suatu negara mengenai interpretasi Ajaran Sosial Gereja tentang isu ekonomi, manakah peran Paus yang paling tepat sebagai “asas dan dasar kesatuan” Gereja?

A.Paus menunjuk seorang Kardinal untuk mengambil alih pemerintahan negara tersebut agar masalah ekonomi segera terselesaikan.

B.Paus mengumumkan bahwa setiap umat bebas memilih interpretasi yang paling disukainya, tanpa campur tangan dari hierarki.

C.Paus memilih salah satu pihak yang berdebat dan mengucilkan pihak yang lain dari Gereja.

D.Paus mengeluarkan pernyataan definitif yang menjelaskan dan mengaplikasikan Ajaran Sosial Gereja untuk isu tersebut, memimpin umat kembali ke pemahaman yang benar, dan mendorong dialog.

 

34. Tugas utama Imam adalah 'menguduskan' (sebagai munus sanctificandi), yang terutama diwujudkan melalui perayaan Sakramen-Sakramen, terutama Ekaristi. Dalam sebuah Paroki modern yang padat aktivitas, seorang Imam Paroki merasa kewalahan antara tuntutan mengelola administrasi Paroki dan tuntutan pelayanan Sakramen. Jika ia harus menentukan prioritas yang paling mencerminkan peran Imamatnya, manakah yang seharusnya ia utamakan?

A.Memastikan perayaan Ekaristi dan Sakramen Rekonsiliasi tersedia bagi umat, sambil mendelegasikan tugas administratif kepada kaum awam yang kompeten.

B.Mengutamakan administrasi dan pembangunan fisik Paroki, karena hal itu menjamin keberlangsungan keuangan Gereja.

C.Hanya fokus pada pelayanan kaum miskin di luar Paroki dan mengabaikan jadwal Misa harian.

D.Mengalihkan sebagian besar tugas Sakramental kepada Diakon, sementara ia fokus pada tugas kepemimpinan dan manajemen Paroki.

 

35. Diakon Permanen, yang keberadaannya diperkuat kembali oleh Konsili Vatikan II, memiliki peran utama dalam Diakonia (Pelayanan) dan dapat membantu dalam tugas pengudusan dan pewartaan. Jika seorang Diakon Permanen bertugas di sebuah Paroki yang kaya, tetapi berada di lingkungan masyarakat yang sangat miskin dan mengalami ketidakadilan, peran Diakon yang paling strategis untuk menjadi jembatan antara Hierarki dan Umat Allah adalah...

A.Secara rutin menggantikan Imam dalam merayakan Ekaristi dan mengurusi semua urusan keuangan Paroki.

B.Menghabiskan waktu di Paroki untuk mengajar katekese tentang doktrin-doktrin yang sangat rumit.

C.Mengambil alih semua tugas yang tidak disukai oleh Imam Paroki, seperti membersihkan Gereja dan menata altar.

D.Memimpin inisiatif pelayanan sosial-keadilan Gereja, mengadvokasi hak-hak kaum miskin, dan membawa masalah mereka ke dalam Dewan Paroki (Hierarki dan Awam).

 

36. Hubungan antara Hierarki dan Kaum Awam diatur oleh prinsip Subsidiaritas dan Kolegialitas/Komunio. Subsidiaritas berarti bahwa apa yang dapat dilakukan oleh level bawah harus dilakukan oleh level bawah. Dalam konteks Paroki, Hierarki seharusnya mendelegasikan sebagian besar tugas administratif dan pastoral kepada kaum awam. Manakah situasi berikut yang paling mencerminkan kegagalan dalam penerapan prinsip Subsidiaritas dalam kepemimpinan Hierarki?

A.Pastor Paroki (Imam) mengambil keputusan tunggal mengenai setiap detail acara dan anggaran kegiatan kaum muda tanpa melibatkan perwakilan kaum muda.

B.Uskup mengeluarkan surat penggembalaan yang menekankan pentingnya doa dan Sakramen Tobat.

C.Pastor Paroki mengizinkan Dewan Paroki Harian (DPH) yang terdiri dari kaum awam untuk mengelola dana operasional harian Paroki.

D.Romo Vikaris (Imam) berkonsultasi dengan sekelompok ahli hukum Katolik sebelum mengambil keputusan yang memiliki implikasi hukum Paroki.

 

37. Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Lumen Gentium art. 31, mendefinisikan kaum awam sebagai semua orang Kristen yang dibaptis dan diangkat menjadi anggota Tubuh Kristus, yang mencari Kerajaan Allah dengan mengurus hal-hal duniawi dan mengaturnya menurut kehendak Allah. Konsekuensi teologis dan praktis paling signifikan dari definisi ini bagi peran kaum awam di tengah masyarakat yang sekuler adalah...

A.Kaum awam harus mendirikan gereja independen yang fokus pada pelayanan sosial, terpisah dari kontrol hierarki.

B.Kaum awam memiliki panggilan khusus untuk menguduskan tatanan duniawi, menjadikan keluarga, pekerjaan, politik, dan budaya sebagai medan misi utama mereka.

C.Kaum awam hanya berfungsi sebagai pelaksana tugas-tugas administratif yang didelegasikan oleh hierarki di dalam struktur Gereja.

D.Kaum awam harus menarik diri dari jabatan publik dan kegiatan profesional agar terhindar dari godaan duniawi.

 

38. Kaum awam berpartisipasi dalam tugas Kenabian Kristus (pewartaan) melalui kesaksian hidup dan perkataan yang berani. Jika seorang profesional Katolik menyaksikan praktik diskriminasi sistemik terhadap kelompok minoritas di tempat kerjanya, manakah tindakan yang paling mencerminkan partisipasi otentik dalam tugas Kenabian ini?

A.Hanya berdoa secara pribadi agar praktik diskriminasi tersebut dihentikan oleh mukjizat.

B.Mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut tanpa memberikan alasan, karena tidak ingin terlibat dalam konflik.

C.Menggunakan posisi dan pengaruhnya untuk mengadvokasi perubahan kebijakan perusahaan secara internal dan membangun kesadaran tentang keadilan, meskipun berisiko menghadapi tekanan.

D.Mengecam praktik diskriminasi tersebut secara terbuka di media sosial, menggunakan bahasa yang agresif dan penuh kebencian.

 

39. Kaum awam juga berpartisipasi dalam tugas Imami Kristus (pengudusan), terutama melalui perayaan Sakramen Baptis, Krisma, dan Ekaristi, serta melalui doa dan kurban harian. Manakah tindakan seorang ibu rumah tangga Katolik yang paling mencerminkan perwujudan tugas Imami (pengudusan) dalam lingkungan keluarga?

A. Menghadiri Misa Kudus setiap hari, meskipun anak-anaknya ditinggal di rumah tanpa pengawasan.

B.Mewajibkan semua anggota keluarganya untuk menjadi imam atau biarawan/biarawati.

C.Menjadi bendahara Paroki dan mengurus semua sumbangan mingguan Gereja.

D.Menyediakan waktu khusus untuk berdoa bersama keluarga, mengajarkan iman kepada anak-anaknya, dan menjadikan pekerjaan rumah tangga sebagai persembahan kurban harian bagi Allah.

 

40. Partisipasi kaum awam dalam tugas Rajawi Kristus (pelayanan, khususnya mengatur tatanan duniawi) menuntut mereka untuk terlibat secara bertanggung jawab dalam tata kelola sosial dan politik. Dalam konteks pemilihan umum, jika seorang tokoh politik Katolik dihadapkan pada dilema antara mengikuti arahan partai yang bertentangan dengan Ajaran Sosial Gereja (ASG) dan mempertahankan integritas moralnya, manakah pilihan yang paling mencerminkan perwujudan tugas Rajawi yang bertanggung jawab?

A.Mengundurkan diri dari politik sama sekali, karena politik dianggap sebagai urusan yang kotor dan tidak kudus.

B.Menggunakan posisinya untuk memperjuangkan keadilan, martabat manusia, dan kebaikan umum berdasarkan prinsip-prinsip ASG, meskipun harus berbeda pandangan atau menghadapi konflik dengan partai.

C.Mengutamakan kesetiaan kepada partai politik di atas segalanya, karena partai adalah kendaraan utama untuk berkuasa.

D. Hanya mendanai proyek-proyek amal Gereja Paroki dan mengabaikan tugas politiknya.

 

 

LihatTutupKomentar